Resensi novel Kaze: Pembunuhan Sang Shogun. Akhir Pencarian Tuan Putri yang Hilang

Ini merupakan review dari serial terakhir petualangan Kaze, seorang ronin yang mengemban tugas mencari putri tuannya yang hilang.

Pada dua pembahasan novel sebelumnya, dikisahkan bahwa Kaze menempuh perjalanan panjang dari Kyoto menuju Edo melalui jalur Tokaido. Sepanjang perjalanan itulah Kaze memperoleh petunjuk mengenai keberadaan putri tuannya. Petunjuk terakhirnya, yang dia peroleh sebagai hadiah atas kemenangan duel, membawanya ke sebuah tempat “spesial” di Edo.

covQK-13.jpg
Petualangan semakin menegangkan karena Edo merupakan wilayah kekuasaan penguasa baru, Ieyasu Tokugawa, yang telah memenangkan perang melawan tuan Kaze di perang Sekigahara. Sebagai ronin yang masuk daftar buronan penguasa baru, tentu Kaze harus menghindari para samurai di kota tersebut.

Namun usahanya menemui halangan yang sangat besar. Dirinya dituduh sebagai tersangka yang berusaha melakukan Ieyasu Tokugawa. Kaze pun menjadi buronan seluruh kota dan mengakibatkan dirinya semakin sulit untuk melakukan pencarian putri tuannya.

Bagaimana Kaze menghadapi tuduhan tersebut? Atau memang dialah yang mengincar nyawa penguasa baru sebagai dendam atas kekalahan di perang Sekigahara? Juga tanpa melupakan misi utamanya untuk menyelamatkan sang putri, Kaze harus bertemu dengan musuh bebuyutannya sejak kecil, Okubo. Hal tersebut menjadikan edisi terakhir dari novel Kaze sangat menarik dan berwarna.

Dalam novel ini juga diceritakan mengenai perkembangan zaman saat itu, di mana senapan mulai masuk ke Jepang dan mempengaruhi kaum samurai, yang menjunjung tinggi nilai sebuah katana (pedang samurai). Serta masuknya tembakau sebagai tren baru masyarakat Edo, meskipun pada saat itu keberadaannya masih dilarang.

Dari sisi petualangannya, menurut saya novel ini mengandung banyak aksi. Mulai dari penyamaran, pengejaran, penguasaan seni, romantisme dan tidak lupa aksi duel pedang khas samurai. Sebuah cerita yang menarik dan pantas dijadikan akhir dari petualangan panjang Kaze.

Sebagai penutup, saya kembali mengutip perkataan dari guru Kaze “Jika kau tak bisa menundukkan dirimu sendiri, kau tak akan bisa menundukkan orang lain. Kalau kau bertarung dengan amarah, frustasi, dan kesombongan, kau tak akan bisa menang, sekalipun kau bisa menaklukkan musuhmu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s